Ahlan Wa Sahlan Mitra Anda dalam Berwawasan
Tampilkan postingan dengan label Toobagus Publishing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Toobagus Publishing. Tampilkan semua postingan

TEROR NII : Tinjauan Sejarah & Islam

Judul: TEROR NII Tinjauan Sejarah & Islam (Gratis VCD “WAJAH TERORISME”)
Penulis: Abu Mujahid
Penerbit: Toobagus Publishing
Cetakan: -
Ukuran: 17.8 x 25 cm
Halaman: -
ISBN: 978-602-98534-2-1
Jenis Cover: Soft Cover
Harga: Rp. 70.000,- Rp. 56.000,-



DEFINISI TEROR, TERORISME GLOBAL MENGENAL HIZBI, CIRI-CIRI HIZBI
BAHAYA LATEN HIZBI, ALIRAN-ALIRAN HIZBI, HUBUNGAN HIZBI & TERORIS

Jika nyawa-nyawa manusia yang haram untuk dibunuh mereka tidak peduli,
Maka batasan-batasan yang dilarang oleh agama dan negara lebih tidak mereka pedulikan.


Sejak generasi pertama sebagian Khawarij menumpahkan darah-darah kaum muslimin di tanah haram, seperti di Makkah dan Madinah. Mereka juga melenyapkan jiwa-jiwa manusia di waktu-waktu yang diharamkan terjadi peperangan seperti di bulan Haji.

Memperhatikan keadaan kaum muslimin di dunia pada hari ini, kita akan mendapati banyak kelompok-kelompok Islam yang memiliki ciri-ciri Khawarij. Sebagian di antara mereka memiliki beberapa ciri, sebagian yang lain memiliki semua ciri itu. Terlepas dari mereka mengakui diri sebagai Khawarij atau tidak dan merasa terpengaruh Khawarij atau tidak, yang jelas, bentuk-bentuk pemahaman Khawarij telah menjangkau ke berbagai kelompok-kelompok di dalam kaum muslimin, termasuk ke tengah-tengah mereka yang mengaku sebagai Salafi.

Di Indonesia kita, orang-orang Khawarij dapat hidup dan bebas menyebarkan pemikiran mereka. Dakwah mereka disebarkan ke masyarakat lewat rupa buku agama, novel Islami, buletin Jum’at, tabloid dan majalah bulanan, artikel-artikel di suratkabar, rekaman ceramah, film dokumenter, pamflet dan poster solidaritas perjuangan.

 
Dalam buku ini pembaca mudah-mudahan dapat lebih tercerahkan sehingga lebih berhati-hati dan lebih memahami hakikat perjuangan mereka.

Selanjutnya kami persilahkan para pembaca untuk menelaah lembar demi lembar buku ini. Allahu Akbar

SEJARAH SYI’AH SURIAH PEMBANTAI AHLUS SUNNAH

Judul: SEJARAH SYI’AH SURIAH PEMBANTAI AHLUS SUNNAH

Penulis: International Institut of Syirian Studies, Abu Mujahid

Penerbit: Toobagus Publishing

Cetakan: -

Ukuran: 17 x 24.5 cm

Halaman: -

ISBN: 978-602-1653-05-0

Jenis Cover: Soft Cover

Harga: Rp. 70.000,- Rp. 56.000,-



Dinasti Fathimiyyah & Mirdasiyah Penyebar Pertama Syi’ah Negeri Syam

Eksistensi Syi’ah di Masa Pemerintahan Nasional Tahun 1919-1969

Hubungan Politik Hafez Al-Assad dengan Musa Shadr

Konflik Internal Partai Baath & Kudeta Pemerintahan

Penyebaran Ajaran Kelompok Alawi, Kematian Basil Al-Assad

Naiknya Bashar Al-Assad Sebagai Presiden Pengganti Hafez Al-Assad

Genosida Ahlus Sunnah oleh Pemerintah Syi’ah dengan Senjata Kimia


Rencana Besar Syi’ah Iran melalui strategi BULAN SABIT Syiah untuk menguasai negara-negara yang berbatasan dengan Arab Saudi semakin tampak jelas, sehingga makin memudahkan Syi’ah untuk merebut dua kota suci, Makkah dan Madinah. Melalui ARAB SPRING atau bisa disebut Musim Semi Arab, satu istilah untuk rangkaian protes dan demonstrasi yang terjadi di Afrika dan Timur Tengah sejak Desember 2010, orang-orang Syi’ah makin leluasa untuk menanam pengaruh di wilayah-wilayah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.



Negeri Syam yang dulu didominasi Ahlus Sunnah tergerus dan menjadi buih di lautan pemerintahan Syi’ah Alawi (Nushairiyah). Dan ini makin menjadi-jadi ketika Suriah dipimpin oleh Bashar Al-Assad yang secara sporadis dan membabi buta melakukan genosida menggunakan senjata berat, seperti tank-tank dan pesawat-pesawat tempur. Bahkan Bashar Al-Assad telah menggunakan senjata kimia mematikan yang telah merenggut ribuan nyawa manusia dalam sekejap.



Hal ini bertolak belakang dengan apa yang ditulis oleh Dina Y. Sulaiman dalam Prahara Suriah. Di buku itu, secara tersirat ia nyatakan bahwa penggunaan senjata kimia di Suriah hanya kebohongan belaka dan propaganda Amerika (hal. 184). Padahal bukti otentik akan keberadaan senjata kimia yang dimaksud telah ditemukan dan sedang diupayakan untuk segera dimusnahkan di laut oleh Organisation for the Prohibition of Chemical Weapons (OPCW).



Selanjutnya kami persilahkan kepada para pembaca untuk menelaah lembar demi lembar buku ini. Selamat menikmati, jazaakumullohu Khoiron.

FIKIH Salafi

Judul: FIKIH Salafi
Penulis: Mauqif dan Ijtihad Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
Penerbit: Toobagus Publishing
Cetakan: -
Ukuran: 17 x 24.8 cm
Halaman: -
ISBN: 978-602-17239-1-3
Jenis Cover: Soft Cover
Harga: Rp. 88.000,- Rp. 70.400,-



Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah seorang Imam dan Mujaddid yang sangat tawadhu (rendah hati), hal itu bisa kita dapati dari berbagai pendapat beliau dalam menjawab persoalan-persoalan umat dalam bidang Aqidah, Muamalah dan Fikih Ibadah yaitu dengan banyak menukilkan pendapat para ulama Salaf terdahulu seperti Al-Imam Ahmad bin Hanbal, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Al-Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi.

Padahal sebagaimana yang kita ketahui bahwasanya beliau (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab) memiliki kapasitas dan kredibilitas sebagai seorang Imam, Mujaddid dan pejuang dakwah tauhid yang diakui keilmuannya oleh kawan dan lawan dakwah beliau.

Dalam buku ini pembaca tidak hanya disuguhkan persoalan fikih semata, namun adanya tanggapan dan bantahan ilmiah dari Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab terhadap pendapat-pendapat para ulama syi’ah dalam masalah fikih, sehingga bisa menambah tsaqofah (wawasan) kita dan semakin menjelaskan upaya tashfiyyah dan tarbiyyah yang dilakukan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam metode dakwahnya.

Selanjutnya kami persilahkan kepada para pembaca untuk menyelami lebih dalam samudra ilmu yang ada pada buku ini, selamat menikmati.

Salafi Antara Tuduhan dan Kenyataan

Judul: Salafi Antara Tuduhan dan Kenyataan
Penulis: Sofyan Chalid bin Idham Ruray
Penerbit: Toobagus Publishing
Cetakan: -
Ukuran: 17.6 x 25.5 cm
Halaman: -
ISBN: 978-979-17604-8-5
Jenis Cover: Soft Cover
Harga: Rp. 75.000,- Rp. 60.000,-




Bantahan Ilmiah Terhadap Buku
“Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi”
Karya ‘Syaikh’ Idahram
Disertai Jawaban Ilmiah Bagi Prof. Dr. KH. Said Agil Siraj, M.A. (Ketua Umum PBNU)
Atas Rekomendasi Terhadap Buku Tersebut


Kembali, pertarungan dan pergolakan antara pembela kebenaran dan kebatilan berlanjut.
Tersebutlah nama Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, salah seorang ulama mujaddid yang mengangkat bendera dakwah dan jihad terhadap kesyirikan dan bid’ah,
menjadi sasaran para pembenci dakwah yang beliau usung.

Demi memuluskan misi mereka untuk membawa manusia kepada kesesatan
dan meninggalkan kebenaran dakwah tauhid, mereka tidak malu dan tidak segan-segan berdusta dan memutarbalikkan fakta, asalkan wajah dakwah tauhid menjadi jelek dan menakutkan di mata umat manusia. Mereka hiasi perkataan dengan kata-kata indah nan menawan. Mereka tampilkan seakan ingin menyelamatkan manusia dari kesesatan, padahal hakikatnya menjauhkan manusia dari kebenaran dakwah tauhid yang mulia ini
demi melestarikan kesyirikan dan bid’ah mereka.

Alhamdulillah, Toobagus Publishing dapat kembali hadir ke tengah-tengah pembaca
dengan menghadirkan buku yang berjudul Salafi Antara Tuduhan dan Kenyataan
(Bantahan Ilmiah terhadap Buku Sejarah berdarah Sekte Salafi Wahabi
karya Syaikh Idahram).

Semoga buku ini dapat menjadi penjelas, pengarah, pencerah bagi yang ingin
mengetahui hakikat dakwah salafiyyah dan menjadi pencegah bagi para musuh dakwah
untuk terus menerus menebar fitrah.

 
SELANJUTNYA KAMI PERSILAHKAN PEMBACA UNTUK MENELAAH
LEMBAR DEMI LEMBAR BUKU INI.

Sufi Nyeleneh Vs Salafi Sholeh

Judul: Sufi Nyeleneh Vs Salafi Sholeh
Penulis: Abu Mujahid
Penerbit: Toobagus Publishing
Cetakan: -
Ukuran: 17.4 x 24.8 cm
Halaman: -
ISBN: 978-602-17239-8-2
Jenis Cover: Soft Cover
Harga: Rp. 70.000,- Rp. 56.000 




Kubu Muslim Tradisionalis vs Kubu Muslim Modernis, Islam Wasathiyah vs Islam Radikal, Radikalisme Islam Kontemporer, Islam Radikal & Kelompok Wahabi,
Neo-Wahabi & Wahabi Tulen, Teori-Teori Masuknya Islam di Nusantara,
Eksistensi Kebudayaan Lokal, Migrasi Muslim Campa, Komunitas Syi’ah Pertama, Kemunculan Islam Nusantara, Salafi-Salafi Pertama di Indonesia,
Menegakkan Syariat Islam di Indonesia, Tauhid Gaya Sokrates,
Aristoteles Manusia Musyrik, Filsafat dalam Kubu Muslim Modernis,
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah Menilai Filsafat.


Masih membaca buku-buku teks sejarah Indonesia yang banyak beredar sekarang ini? Percaya apa yang ditulis tentang Islam di Indonesia di dalam buku-buku itu?

Jika ya, akan terbaca bahwa kaum Sufi memiliki peran besar dalam islamisasi di Nusantara. Merekalah yang ditulis sebagai para penerus usaha islamisasi sampai ke pelosok-pelosok Nusantara yang semula hanya terbatas pada bandar-bandar niaga, kota-kota pesisir.

Jika pembacaan itu diteruskan, akan kembali ditemukan bahwa yang banyak berperan secara khusus dalam proses itu adalah sufi-sufi dari tarekat Syattariyah. Fleksibilitas anggota-anggota tarekat Syattariyah dalam menjalankan Islam membuat banyak penduduk pedesaan tertarik kepada Islam, meskipun – tentu saja – di satu sisi tidak total melepskan keyakinan kuno mereka.

Buku-buku teks sejarah itu, ternyata, berbicara juga tentang perseturuan antara kaum Sufi dan mereka yang disasar sebagai Wahabi (atau Wahhabi). Ya, sebuah perseturuan yang panjang dan lama dalam sejarah Islam di Indonesia. Sebuah perseturuan yang sering disederhanakan menjadi tradisionalis versus modernis.

Buku ini semacam tanggapan yang bersifat eksplanatif atas apa yang ditulis dalam Sufi “ndeso” Vs. Wahabi Kota. Berusaha bercerita tentang apa yang terjadi di tengah kubu Sufi Ndeso dan Wahabi kota sekarang, Sufi Nyeleneh Versus Salafi Sholeh ini, jelas, berisi cerita yang masih terus berjalan.

SEJARAH NU “AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH” di Indonesia (jilid 2)

Judul: SEJARAH NU “AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH” di Indonesia (jilid 2)
Penulis: Abu Mujahid
Penerbit: Toobagus Publishing
Cetakan: -
Ukuran: 17.2 x 25 cm
Halaman: -
ISBN: 978-602-17239-2-0
Jenis Cover: Soft Cover
Harga: Rp. 75.000,- Rp. 63.750,-
 


Gus Dur & TEMPO, Dinamisasi Pondok-Pondok Pesantren,
Revitalisasi Kitab-Kitab Kuning, Majelis Bahtsul Masa-il,
Penggembosan PPP, Kasus Tabloid Monitor,
Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia Versus Forum Demokrasi,
Dai Sejuta Umat, Rapat Akbar Warga NU, Muktamar Cipasung 1994,
Kerusuhan Situbondo & Tasikmalaya, Mahasiswa-Mahasiswa Generasi MTV,
Tragedi berdarah Mei 1998, Kemunculan PKB-PNU-PKU-Partai Suni,
Ulil Abshar Abdalla & Jaringan islam Radikal,
Terorisme & Gerakan Islam Radikal, Detasemen 99 Anti teror


“Kenapa tradisi NU yang selama ini sulit ditembus, tiba-tiba di-‘subversi’ secara diam-diam dari dalam? Saya curiga, jangan-jangan ini karena faktor Gus Dur. Di kalangan pesantren, pengaruh seorang figur masih sangat kuat. Ini adalah bagian dari paternalisme Jawa yang jejak-jejaknya masih terasa kuat di pesantren. Figur, bagi kalangan tradisi, adalah penjaga ketertiban, harmoni, keselarasan. Modernisasi telah mengacaukan banyak norma masyarakat. Dan tradisi adalah semacam ‘rumah’ yang melindungi mereka dari kekacauan itu. Mereka tak akan membiarkan siapa saja melakukan ‘perombakan’ interior atau eksterior rumah tersebut. Karena, dengan demikian, mereka akan mengalami ancaman. Akan tetapi perombakan itu diperbolehkan jika harus dilakukan sendiri oleh seorang ‘dhanyang’, seorang figur karismatis yang menjadi pelindung tradisi mereka. Di sinilah feodalisme mendatangkan ‘berkah’. Munculnya figur Gus Dur telah memberikan sokongan moral kepada para anak muda dan kyai muda NU untuk melakukan ‘pembacaan-ulang’ atas tradisi mereka yang selama ini dijaga dengan keras oleh para kyai sepuh. Gus Dur sendiri, sebetulnya, tidak melakukan pembaharuan secara verbal ‘ke dalam’. Dia jarang membicarakan isu-isu intelektual yang kontroversial di kalangan kyai-kyai. Akan tetapi Gus Dur memberikan ‘suaka keagamaan’ kepada para anak muda yang sudah ‘gerah’ terhadap tradisinya dan hendak melakukan sesuatu yang lain”.

Lebih dari sepuluh tahun lalu, Ulil Abshar Abdalla pernah mengatakan itu dalam salah satu artikelnya. Sebagai generasi muda NU yang merasakan zaman itu, masa-masa ketika Gus Dur memimpin NU langsung, Ulil betul-betul tahu: Gus Dur bukan sekedar tokoh, tetapi juga jendela, pewarta kepada dunia tentang dunia pesantren dan santri di Indonesia.

Berbeda dengan jilid pertama, jilid kedua Sejarah NU “Ahlus Sunnah wal jama’ah” di Indonesia ini akan mengetengahkan perjalanan NU sejak Gus Dur mulai memegang jabatan ketua PBNU sampai berubah seperti sekarang. Sebagai kumpulan cerita-cerita menarik, buku ini memang patut dibaca. Terutama, bagi mereka yang memiliki concern untuk mengubah wajah pendidikan pesantren kita.

SEJARAH MUHAMMADIYAH : Meliberalkan Muhammadiyah (Bagian 3)

Judul: SEJARAH MUHAMMADIYAH : Meliberalkan Muhammadiyah (Bagian 3)
Penulis: Abu Mujahid
Penerbit: Toobagus Publishing
Cetakan: -
Ukuran: 17.3 x 24.8 cm
Halaman: -
ISBN: 978-602-1653-03-6
Jenis Cover: Soft Cover
Harga: Rp. 70.000,- Rp. 56.000,-



Pecahnya Masyumi, Pemilihan Umum 1955, Muhammadiyah Berkampanye,
Kekalahan Partai-Partai Islam, Pemberontakan PRRI/Permesta, NASAKOM,
Penyiksaan Tokoh-Tokoh Muhammadiyah,
Teori-Teori tentang Gerakan 30 September 1965,
Pembantaian Massal Anggota dan Simpatisan PKI, Muhammadiyah dan Parmusi,
Kepemimpinan Pak AR, Amien Rais Versus Presiden Soeharto, PAN,
Meliberalkan Generasi Muda Muhammadiyah, Pragmatisme ala Din Syamsuddin.

 
Pada satu masa, Muhammadiyah pernah bangga bahwa salah seorang tokoh mereka pernah mentas di tingkat nasional, memegang peran yang tidak kecil dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pada 1990-an kebanggaan seperti itu kembali meruap, ketika mereka bersama-sama menyaksikan apa yang dilakukan oleh Amien Rais terhadap pemerintahan Orde Baru. Ketika orang-orang ramai tiarap, menghindar dari represi Presiden Soeharto, Amien Rais berdiri menggelindingkan ide suksesi kepemimpinan nasional. Banyak wartawan waktu yang sepakat bahwa “urat ketakutan” Amien Rais telah putus.

Publik kemudian melihat Presiden Soeharto jatuh pada Mei 1998. Sebagian warga Muhammadiyah percaya, jatuhnya Soeharto adalah akibat bola yang dilemparkan Amien Rais ke tengah rakyat Indonesia. Buat Muhammadiyah, dan sebagian yang lain, Amien Rais, Ketua PP. Muhammadiyah waktu itu, adalah Bapak Reformasi.

Akan tetapi, mereka yang percaya dengan fakta-fakta sejarah mesti akan sepakat bahwa Muhammadiyah adalah ormas Islam yang tak pernah becus dalam berpolitik di Indonesia. Setelah pernah membesarkan Masyumi pada tahun-tahun pertama kemerdekaan dulu, Muhammadiyah sempat ingin bereksperimen dengan Partai Muslimin Indonesia atawa Parmusi. Eksperimen itu gagal. Tokoh-tokoh Muhammadiyah kembali fokus membenahi diri dan ormas mereka, sampai kemudian datang reformasi. Kali ini, mereka berusaha berpolitik lewat PAN dan Amien Rais mereka.

Bagian terakhir buku sejarah tentang perjalanan Muhammadiyah di tingkat nasional ini berusaha menyajikan sejumlah fragmen sejarah politik tokoh-tokoh Muhammadiyah. Dan barangkali kita akan sepakat: yang seperti mereka akan terus lahir dari tengah Muhammadiyah, mengisi gelanggang politik negara kita tanpa melepaskan ikatan emosional mereka dari Muhammadiyah.

SEJARAH MUHAMMADIYAH : mencari syariat di politik dua zaman (Bagian 2)

Judul: SEJARAH MUHAMMADIYAH : mencari syariat di politik dua zaman (Bagian 2)

Penulis: Abu Mujahid

Penerbit: Toobagus Publishing

Cetakan: -

Ukuran: 17.2 x 25.4 cm

Halaman: -

ISBN: 978-602-1653-03-6

Jenis Cover: Soft Cover

Harga: Rp. 70.000,- Rp. 56.000,-



Warisan-Warisan “Sang Pembaru”, Berpolitik Bersama Sarekat Islam

Muhammadiyah VS Nahdlatoel Oelama

Muhammadiyah di Yogyakarta, Muhammadiyah di Minangkabau

Muhammadiyah di Palembang, Mas Mansur dan Haji Rasul

Memimpin Majelis A’la Islam Indonesia dan Partai Islam Indonesia

Masyumi Made in Japan dan Masyumi Made in Indonesia

Muhammadiyah di balik hilangnya “dengan kewadjiban

Mendjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”

Angkatan Perang Sabil, Muhammadiyah Melawan Belanda


Politik itu penting, tetapi tidak menjadi bidang garapan Muhammadiyah. Jika orang Muhammadiyah ingin berjuang ingin berjuang di bidang itu, maka harus dibuat wadah tersendiri yang berada di luar Muhammadiyah yang tidak berhubungan secara kelembagaan dengan Muhammadiyah, tetapi keduanya harus bisa bekerja sama dan harus pula bekerja sama dengan kekuatan umat lainnya.”



Kata-kata itu dirumuskan salah seorang tokoh Muhammadiyah ketika Belanda belum lagi pergi dari Nusantara. Dan sampai hari ini, kata-kata itu menjadi acuan bagi anggota-anggota Muhammadiyah untuk ikut terlibat di politik praktis.



Muhammadiyah antara gerakan tajdid dengan tanda kutip. Setelah berjuang menjadikan pembaruan di bidang pendidikan agama, tokoh-tokoh Muhammadiyah sepeninggal K.H. Ahmad Dahlan mulai berpikir tentang sesuatu yang baru di bidang politik. Bagi mereka, Islam adalah sempurna. Berislam juga berarti berpolitik, meski tanpa melibatkan Muhammadiyah.



Berbeda dengan bagian pertama yang menelisik Muhammadiyah di zaman K.H. Ahmad Dahlan. Pada bagian ini, akan didedah tahun-tahun pertama Muhammadiyah terlibat dalam politik praktis yang dalam istilah penulis buku ini disebut masa ketika Muhammadiyah mulai beranjak dewasa.

Sejarah Berdarah Al-Quds & Al-Aqsa

Judul: Sejarah Berdarah Al-Quds & Al-Aqsa

Penulis: Abdul Fattah Hasan Abu ‘Ulayyah

Penerbit: Toobagus Publishing

Cetakan: -

Ukuran: 17.2 x 25 cm

Halaman: -

ISBN: -

Jenis Cover: Soft Cover

Harga: Rp. 75.000,- Rp. 60.000,-



 
Sejarah Berdarah
Al-Quds & Al-Aqsa
Duka di Negeri Palestina
“Tanah ini milik kami, hei anak-anak kera, bukan milik kalian!”
Plus AL-AQSA VERSI SYI’AH
 
Orang-orang Islam menyebut tanah suci ketiga mereka dengan Al-Quds – yang dari nama itu pula kemudian muncul nama Kudus di Jawa. Bukan Yerusalem, bukan Jerusalem. Sebab Yerusalem atau Jerusalem berarti kota Dewa Salem, dewa dalam kepercayaan bangsa Kana’an kuno.



Di Al-Quds itulah juga terdapat Masjid Al-Aqsa. Dulu, Ibnu Taimiyah pernah mengatakan,

“Masjid al-Aqsa adalah nama dari semua bagian masjid yang dibangun oleh Nabi Sulaiman. Sebagian orang menyatakan bahwa masjidil Aqsa adalah tempat shalat yang dibangun oleh ‘Umar bin al-Khaththab untuk kaum muslimin ini lebih utama dibandingkan shalat di bagian lain dari masjid.”



Sayang, Al-Quds sudah dikuasai orang-orang Yahudi. Direbut paksa di depan mata-mata uamt Islam dalam sebuah persekongkolan yang cerdas. Dari situ, pantaslah, jika Al-Quds sekarang adalah sebuah duka memanah bagi umat Islam. Bertahun-tahun dan entah sampai kapan.



Dengan semua itu, anehnya, orang-orang Syi’ah dan Ahmadiyah memiliki persepsi yang berbeda tentang Masjid Al-Aqsa. Buat mereka, Masjid Al-Aqsa bukan masjid yang ada di Al-Quds sekarang ini. Bukan bangunan yang ingin direbut kembali oleh kaum muslimin dari negara Yahudi selama ini.



Lihat ini, salah seorang ulama Syi’ah, Ja’far Murtadha Al-‘Amili, menulis dalam Al-Masjid Al-Aqsa Ayna?, “Sudah nyata sekali bagi kita semua sejumlah fakta tentang kekhususan-kekhususan Masjid Al-Aqsa. Dan perkara yang sudah disepakati pula adalah fakta bahwa Masjid Al-Aqsa bukan yang ada di Palestina itu.”



Yang lebih menggelikan lagi, orang-orang Ahmadiyah menganggap bahwa Masjid Al-Aqsa adalah Masjid Qadiyan! Dalam suratkabar Al-Fadhl Al-Qadiyan, edisi 3 September 1935, ditulis, “Sungguh,Allah telah betul-betul menyucikan tempat-tempat yang tiga ini: Mekkah, Madinah, dan Qadiyan. Dan dia juga telah memilih tiga tempat itu untuk menampakkan kemuliaan tempat-tempat tersebut.” Masih di suratkabar yang sama, dalam edisi 23 September 1935 ditulis, “Sebenarnya, yang dimaksud dengan [ayat pertama Surat Al-Isra’], dari Masjidil Haram ke Masjid Al-Aqsa yang telah kami berkahi di sekitarnya adalah [ke] Masjid Qadiyan”.



Semua itu akan dibahas dalam buku ini. Kepada Allah-lah kami kembalikan segala urusan. Lalu, kepada pembaca, kami persilakan menelaah lembar demi lembar buku terjemahan ini. Dan mudah-mudahan Allah memberikan berkahNya untuk kita semua lewat buku ini. Amin

Sebenarnya Siapakah Wahabi itu?

Judul: Sebenarnya Siapakah Wahabi itu?

Penulis: DR. Muhammad bin Sa’ad Asy-Syuwairi

Penerbit: Toobagus Publishing

Cetakan: -

Ukuran: 17.3 x 25 cm

Halaman: -

ISBN: -

Jenis Cover: Soft Cover

Harga: Rp. 70.000,- Rp. 56.000,-




Buku ini berbicara tentang sejarah munculnya kata “Wahaby” dalam pembicaraan ulama dan kaum muslimin, bahkan ahli sejarah dunia (baik yang muslim maupun non muslim). Dan sejarah apa sebabnya dan tujuannya istilah ini sampai disematkan kepada dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. 
 


Siapa yang berperan memberikan julukan wahabiyah ini
kepada dakwah salafiyah?
Benarkah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab itu wahaby?
dan dakwahnya disebut wahabiyah?
Sehingga salafy pun disebut wahaby?


Buku ini ditulis oleh seorang Doktor dari Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir tahun 1977 Masehi, dicetak pertama kali di Tithwan, Maroko tahun 1407 Hijriyyah, cetakan kedua di Dar Al-Ma’arif di Riyadh tahun 1413 Hijriyyah, dan cetakan ketiga oleh Universitas Islam Madinah, Arab Saudi. Pada cetakan ketiga ini telah diberikan pengantar oleh Rektor Universitas Islam Madinah yaitu Asy-Syaikh Shalih bin Abdullah Al-‘Ubud – semoga Allah menjaga beliau.


Lihat, baca dan amalkan
 

Pesona Wanita Shalihah

Judul: Pesona Wanita Shalihah
Penulis: Ummu Salamah As-Salafiyyah Al-Abasiyyah
Penerbit: Toobagus Publishing
Cetakan: -
Ukuran: 17.7 x 25.6 cm
Halaman: -
ISBN: 978-602-18774-6-3
Jenis Cover: Soft Cover
Harga: Rp. 65.000,- Rp. 52.000,-




Wanita shalihah merupakan perhiasan paling indah bagi pria yang shalih. Kecantikannya, kelembutannya, keramahannya, perhatiannya dan iffahnya merupakan impian para pria yang mendambakan kenikmatan dalam berumah tangga.

Wanita shalihah merupakan pemata indah yang tak ternilai harganya, tak bisa disandingkan dengan apapun yang ada di dunia ini. Tak cukup hanya keindahan rupa, badan dan pelayanan, seorang wanita shalihah haruslah memiliki ilmu sebagai pakaian keimanan dan ketakwaan.

Berkata Ibunda kaum mukmin Aisyah:
“Sebaik-baik wanita adalah kalangan Anshar, mereka tidak terhalangi rasa malu dalam bertanya masalah agama dan mempelajarinya (tafaqquh fid din).”
(Hr. Abu Dawud)

Penulis buku ini adalah Ummu Salamah bintu Ali Al-Abbasyi, salah seorang pengajar wanita di Darul Hadits Dammaj. Beliau mengajar para pelajar wanita dalam berbagai bidang ilmu agama seperti Tafsir, Fiqih, Aqidah, Tauhid, Ushul Fiqih, Ilmu Hadits, Nahwu dan yang lainnya. Beliau sangat bersemangat dalam mengajar dan dalam memahamkan para muridnya, demikian pula ramah dan tawadhu’ kepada para muridnya.

Berkata Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i:
“Adapun tentang penulis maka dia adalah seorang wanita yang terkumpul padanya sifat-sifat yang terpuji, zuhud dalam perkara dunia, berakhlak mulia, dan bersemangat dalam meraih ilmu yang bermanfaat dan sangat menjaga waktunya. Kerap kali dia bersendirian di perpustakaan wanita dan dialah yang menggantikan Ummu Abdillah Al Wadi’iyah dalam mengajar para wanita jika dia berhalangan untuk hadir atau sedang sakit. Dia adalah seorang pemberi nasehat yang membekas di hati pendengarnya.”
[pendahuluan kitab “Al-Intishor Lihuquuqil Mu’minat” karya Ummu Salamah]

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
.