Ahlan Wa Sahlan Mitra Anda dalam Berwawasan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Bencana-Bencana Besar dalam Sejarah Islam

Judul: Bencana-Bencana Besar dalam Sejarah Islam
Penulis: Dr. Fathi Zaghrut
Penerbit: Pustaka Al-Kautsar
Halaman: 950 hlm
Ukuran: 15.5 x 24.5 cm
ISBN: 978-979-592-6825
Jenis Cover: Hard Cover
Harga: Rp.185.000,-





Baghdad, Granada, Istanbul, Baitul Maqdis (Al-Quds), adalah kota-kota Islam pada masa lalu yang dikenang dalam sejarah sebagai basis ilmu, basis peradaban, kejayaan sebuah pemerintahan Islam, jejak keagungan seni dan arsitektur Islam, dan kota suci kaum Muslimin. Kota-kota yang pada masa lalu memancarkan sinar kegemilangannya keseluruh penjuru dunia. Dikenal dan dikenang sepanjang sejarah hingga kini.
 

SEJARAH NU “AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH” di Indonesia (jilid 2)

Judul: SEJARAH NU “AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH” di Indonesia (jilid 2)
Penulis: Abu Mujahid
Penerbit: Toobagus Publishing
Cetakan: -
Ukuran: 17.2 x 25 cm
Halaman: -
ISBN: 978-602-17239-2-0
Jenis Cover: Soft Cover
Harga: Rp. 75.000,- Rp. 63.750,-
 


Gus Dur & TEMPO, Dinamisasi Pondok-Pondok Pesantren,
Revitalisasi Kitab-Kitab Kuning, Majelis Bahtsul Masa-il,
Penggembosan PPP, Kasus Tabloid Monitor,
Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia Versus Forum Demokrasi,
Dai Sejuta Umat, Rapat Akbar Warga NU, Muktamar Cipasung 1994,
Kerusuhan Situbondo & Tasikmalaya, Mahasiswa-Mahasiswa Generasi MTV,
Tragedi berdarah Mei 1998, Kemunculan PKB-PNU-PKU-Partai Suni,
Ulil Abshar Abdalla & Jaringan islam Radikal,
Terorisme & Gerakan Islam Radikal, Detasemen 99 Anti teror


“Kenapa tradisi NU yang selama ini sulit ditembus, tiba-tiba di-‘subversi’ secara diam-diam dari dalam? Saya curiga, jangan-jangan ini karena faktor Gus Dur. Di kalangan pesantren, pengaruh seorang figur masih sangat kuat. Ini adalah bagian dari paternalisme Jawa yang jejak-jejaknya masih terasa kuat di pesantren. Figur, bagi kalangan tradisi, adalah penjaga ketertiban, harmoni, keselarasan. Modernisasi telah mengacaukan banyak norma masyarakat. Dan tradisi adalah semacam ‘rumah’ yang melindungi mereka dari kekacauan itu. Mereka tak akan membiarkan siapa saja melakukan ‘perombakan’ interior atau eksterior rumah tersebut. Karena, dengan demikian, mereka akan mengalami ancaman. Akan tetapi perombakan itu diperbolehkan jika harus dilakukan sendiri oleh seorang ‘dhanyang’, seorang figur karismatis yang menjadi pelindung tradisi mereka. Di sinilah feodalisme mendatangkan ‘berkah’. Munculnya figur Gus Dur telah memberikan sokongan moral kepada para anak muda dan kyai muda NU untuk melakukan ‘pembacaan-ulang’ atas tradisi mereka yang selama ini dijaga dengan keras oleh para kyai sepuh. Gus Dur sendiri, sebetulnya, tidak melakukan pembaharuan secara verbal ‘ke dalam’. Dia jarang membicarakan isu-isu intelektual yang kontroversial di kalangan kyai-kyai. Akan tetapi Gus Dur memberikan ‘suaka keagamaan’ kepada para anak muda yang sudah ‘gerah’ terhadap tradisinya dan hendak melakukan sesuatu yang lain”.

Lebih dari sepuluh tahun lalu, Ulil Abshar Abdalla pernah mengatakan itu dalam salah satu artikelnya. Sebagai generasi muda NU yang merasakan zaman itu, masa-masa ketika Gus Dur memimpin NU langsung, Ulil betul-betul tahu: Gus Dur bukan sekedar tokoh, tetapi juga jendela, pewarta kepada dunia tentang dunia pesantren dan santri di Indonesia.

Berbeda dengan jilid pertama, jilid kedua Sejarah NU “Ahlus Sunnah wal jama’ah” di Indonesia ini akan mengetengahkan perjalanan NU sejak Gus Dur mulai memegang jabatan ketua PBNU sampai berubah seperti sekarang. Sebagai kumpulan cerita-cerita menarik, buku ini memang patut dibaca. Terutama, bagi mereka yang memiliki concern untuk mengubah wajah pendidikan pesantren kita.

SEJARAH MUHAMMADIYAH : Meliberalkan Muhammadiyah (Bagian 3)

Judul: SEJARAH MUHAMMADIYAH : Meliberalkan Muhammadiyah (Bagian 3)
Penulis: Abu Mujahid
Penerbit: Toobagus Publishing
Cetakan: -
Ukuran: 17.3 x 24.8 cm
Halaman: -
ISBN: 978-602-1653-03-6
Jenis Cover: Soft Cover
Harga: Rp. 70.000,- Rp. 56.000,-



Pecahnya Masyumi, Pemilihan Umum 1955, Muhammadiyah Berkampanye,
Kekalahan Partai-Partai Islam, Pemberontakan PRRI/Permesta, NASAKOM,
Penyiksaan Tokoh-Tokoh Muhammadiyah,
Teori-Teori tentang Gerakan 30 September 1965,
Pembantaian Massal Anggota dan Simpatisan PKI, Muhammadiyah dan Parmusi,
Kepemimpinan Pak AR, Amien Rais Versus Presiden Soeharto, PAN,
Meliberalkan Generasi Muda Muhammadiyah, Pragmatisme ala Din Syamsuddin.

 
Pada satu masa, Muhammadiyah pernah bangga bahwa salah seorang tokoh mereka pernah mentas di tingkat nasional, memegang peran yang tidak kecil dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pada 1990-an kebanggaan seperti itu kembali meruap, ketika mereka bersama-sama menyaksikan apa yang dilakukan oleh Amien Rais terhadap pemerintahan Orde Baru. Ketika orang-orang ramai tiarap, menghindar dari represi Presiden Soeharto, Amien Rais berdiri menggelindingkan ide suksesi kepemimpinan nasional. Banyak wartawan waktu yang sepakat bahwa “urat ketakutan” Amien Rais telah putus.

Publik kemudian melihat Presiden Soeharto jatuh pada Mei 1998. Sebagian warga Muhammadiyah percaya, jatuhnya Soeharto adalah akibat bola yang dilemparkan Amien Rais ke tengah rakyat Indonesia. Buat Muhammadiyah, dan sebagian yang lain, Amien Rais, Ketua PP. Muhammadiyah waktu itu, adalah Bapak Reformasi.

Akan tetapi, mereka yang percaya dengan fakta-fakta sejarah mesti akan sepakat bahwa Muhammadiyah adalah ormas Islam yang tak pernah becus dalam berpolitik di Indonesia. Setelah pernah membesarkan Masyumi pada tahun-tahun pertama kemerdekaan dulu, Muhammadiyah sempat ingin bereksperimen dengan Partai Muslimin Indonesia atawa Parmusi. Eksperimen itu gagal. Tokoh-tokoh Muhammadiyah kembali fokus membenahi diri dan ormas mereka, sampai kemudian datang reformasi. Kali ini, mereka berusaha berpolitik lewat PAN dan Amien Rais mereka.

Bagian terakhir buku sejarah tentang perjalanan Muhammadiyah di tingkat nasional ini berusaha menyajikan sejumlah fragmen sejarah politik tokoh-tokoh Muhammadiyah. Dan barangkali kita akan sepakat: yang seperti mereka akan terus lahir dari tengah Muhammadiyah, mengisi gelanggang politik negara kita tanpa melepaskan ikatan emosional mereka dari Muhammadiyah.

SEJARAH MUHAMMADIYAH : mencari syariat di politik dua zaman (Bagian 2)

Judul: SEJARAH MUHAMMADIYAH : mencari syariat di politik dua zaman (Bagian 2)

Penulis: Abu Mujahid

Penerbit: Toobagus Publishing

Cetakan: -

Ukuran: 17.2 x 25.4 cm

Halaman: -

ISBN: 978-602-1653-03-6

Jenis Cover: Soft Cover

Harga: Rp. 70.000,- Rp. 56.000,-



Warisan-Warisan “Sang Pembaru”, Berpolitik Bersama Sarekat Islam

Muhammadiyah VS Nahdlatoel Oelama

Muhammadiyah di Yogyakarta, Muhammadiyah di Minangkabau

Muhammadiyah di Palembang, Mas Mansur dan Haji Rasul

Memimpin Majelis A’la Islam Indonesia dan Partai Islam Indonesia

Masyumi Made in Japan dan Masyumi Made in Indonesia

Muhammadiyah di balik hilangnya “dengan kewadjiban

Mendjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”

Angkatan Perang Sabil, Muhammadiyah Melawan Belanda


Politik itu penting, tetapi tidak menjadi bidang garapan Muhammadiyah. Jika orang Muhammadiyah ingin berjuang ingin berjuang di bidang itu, maka harus dibuat wadah tersendiri yang berada di luar Muhammadiyah yang tidak berhubungan secara kelembagaan dengan Muhammadiyah, tetapi keduanya harus bisa bekerja sama dan harus pula bekerja sama dengan kekuatan umat lainnya.”



Kata-kata itu dirumuskan salah seorang tokoh Muhammadiyah ketika Belanda belum lagi pergi dari Nusantara. Dan sampai hari ini, kata-kata itu menjadi acuan bagi anggota-anggota Muhammadiyah untuk ikut terlibat di politik praktis.



Muhammadiyah antara gerakan tajdid dengan tanda kutip. Setelah berjuang menjadikan pembaruan di bidang pendidikan agama, tokoh-tokoh Muhammadiyah sepeninggal K.H. Ahmad Dahlan mulai berpikir tentang sesuatu yang baru di bidang politik. Bagi mereka, Islam adalah sempurna. Berislam juga berarti berpolitik, meski tanpa melibatkan Muhammadiyah.



Berbeda dengan bagian pertama yang menelisik Muhammadiyah di zaman K.H. Ahmad Dahlan. Pada bagian ini, akan didedah tahun-tahun pertama Muhammadiyah terlibat dalam politik praktis yang dalam istilah penulis buku ini disebut masa ketika Muhammadiyah mulai beranjak dewasa.

Kerajaan Arab Saudi 2 : Sejarah, Dakwah dan Politik

Judul: Kerajaan Arab Saudi 2 : Sejarah, Dakwah dan Politik
Penulis: Abdullah bin Utsaimin, Syaikh Ahmad bin Umar bin Salim Bazmul, Syaikh Muhammad bin Umar bin Salim Bazmul
Penerbit: Toobagus Publishing
Cetakan: -
Ukuran: 16.7 x 24.2 cm
Halaman: -
ISBN: 978-602-18774-5-6
Jenis Cover: Soft Cover
Harga: Rp. 75.000,- Rp.60.000,-



“Saya memohon agar Allah selalu melanggengkan nikmatNya untuk Jazirah Arab serta negeri-negeri kaum muslimin lainnya, dan selalu menjaga negeri tauhid di bawah kepemimpinan sang pelayan dua tanah suci, Raja Fahd bin Abdil Aziz...”
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani

“Orang-orang Saudi, khususnya para pengemban ilmu di kalangan mereka,
selalu – alhamdulillah – menjaga akidah mereka di atas tauhid dan memerangi
segala bentuk kesyirikan dan keberhalaan yang di antara macamnya
adalah beristighatsah kepada selain Allah.”
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani

“Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab dan para pengikutnya telah mengibarkan bendera tauhid di Nejed dan negeri-negeri lainnya. Jazahumullah ‘anil Islam khairan.”
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani

“Saya bersaksi dan kalian juga persaksikan atas apa yang saya katakan
ini bahwa tidaklah saya ketahui ada di atas bumi hari ini ada yang
menjalankan syariat Allah seperti apa yang dilakukan oleh negara ini, yakni
Kerajaan Arab Saudi. Dan ini, tanpa ragu lagi, termasuk dari nikmat Allah kepada kita. Karena itu, hendaklah kita menjaga apa-apa yang ada pada kita hari ini.”
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

“Kerajaan Arab Saudi, wa lillahil hamd, adalah negeri yang berhukum dengan syariat Islam.
Hakim-hakim mengadili dengan syariat Islam. Shaum bisa ditegakkan. Haji bisa diadakan. Dan pelajaran-pelajaran agama bisa diajarkan di berbagai masjid.”
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Sejarah Salafi di Indonesia

Judul: Sejarah Salafi di Indonesia

Penulis: Abu Mujahid

Penerbit: Toobagus Publishing

Cetakan: Pertama, Shafar 1433 H / Januari 2012 M ; Kedua, Jumadil Akhir 1433 H / April 2012 M

Ukuran: 17.6 x 25.5 cm

Halaman: viii + 245 hlm

ISBN: 978-602-98534-9-0

Jenis Cover: Soft Cover

Harga: Rp. 75.000,- Rp. 60.000,-



Para Salab Mazhab Salaf, Para Pendahulu yang Baik,

Sepotong Geneologi Mazhab Salaf, AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH,

Kelompok-Kelompok Sempalan Pertama, Para Pemegang Hadits,

IMAM-IMAM SALAFI, ISLAM di INDONESIA, Islam Sinkretik dan Islam Murni,

Gerakan PADERI, Haji Rifai Kalisasak, AHMAD SUKARTI dari SUDAN,

DDII, Abu Nida’ Chamsaha Sofwan, Ja’far Umar Thalib & DEGOLAN,

1 Prinsip 2 Tokoh 3 Acara, LASKAR JIHAD



Deskripsi:

Istilah Salafi di Indonesia sekarang ternyata memiliki arti berbeda dari istilah Salafi yang pernah dikenal masyarakat kita puluhan tahun silam. Dulu, mereka mengenal istilah Salafi pada apa yang sekarang ini disebut Salafiyah atau Salafisme Abduh dan dalam banyak kesempatan sering juga disebut gerakan reformisme Islam. Istilah Salafi juga tidak semakna dengan apa yang sering diistilahkan masyarakat kita sebagai salaf pada label pesantren salaf atau pesantren salafiyah.



Menariknya, hampir tidak terpikirkan sama sekali waktu itu untuk menyamakan Salafisme Abduh dan apalagi pesantren Salafiyah sebagai bagian dari apa yang disebut dengan gerakan Wahhabi. Menyamakan istilah Salafisme Abduh, salafiyah dan Wahhabi ke dalam satu pengertian hanya akan melahirkan sebuah contradictio in terminis waktu itu.



Sebaliknya, Wahhabi banyak diyakini telah mengalami pengemasan ulang (repacking) sejak empat puluh tahun lalu. Mereka diyakini berusaha mengodifikasi dan mengikuti lagi secara sistematis pemahaman-pemahaman yang disampaikan tiga tokoh rujukan di kalangan Wahhabi dulu – Ibnu Taimiyah (1263 – 1328 M), Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah (1292 – 1350 M) dan Muhammad bin Abdil Wahhab (1703 – 1792 M). Mereka sekarang disebut dengan Salafi.

Buku ini berusaha menjawab pertanyaan tentang Salafi. Apa dan siapa itu Salafi? Siapa yang menjadi rujukan mereka? Terkait dengan Indonesia, bagaimana mereka membangun sejarah di negeri ini?

HISTORY OF THE ARABS

Judul: HISTORY OF THE ARABS
Judul Asli/Penerbit: History of The Arabs; From the Earliest Times to the Present / Palgrave Macmillan, edisi revisi ke-10, New York
Penulis: Philip K. Hitti
Penerjemah: R. Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi
Penerbit: Serambi
Cetakan: I, Juli 2013 / Ramadan 1434 H
Ukuran: 15.1 x 23.4 cm
Halaman: xxi + 981 hlm
ISBN: 978-979-024-581-5
Jenis Cover: Soft Cover
Harga: Rp. 149.900,-



HISTORY OF THE ARABS
Rujukan Induk dan Paling Otoritatif tentang Sejarah Peradaban Islam


Sinopsis:

“Kualitas karya Profesor Hitti ini sangat istimewa. Buku ini kaya dengan
rujukan pada sumber-sumber primer dan orisinal. Halaman demi halaman sarat
dengan analisis historis yang tajam dan meyakinkan.”  
New York Times


Inilah karya tentang kemunculan Islam dan perkembangannya hingga Abad Pertengahan, gerak penaklukannya, kerajaannya, serta masa kejayaan dan kemundurannya, yang sangat komprehensif. Ia menyingkapkan seluruh kekayaan panorama historis yang mengesankan.

Philip K. Hitti melakukan telaah serius selama sepuluh tahun untuk menghimpun data-data historis tentang Arab-Islam. Ia merasa tak puas dengan hanya mengungkap data-data historis seputar pergantian penguasa yang berlangsung di dunia Arab-Islam. Ia melacak lebih jauh pada kondisi prasejarah bangsa Arab, termasuk kondisi geologi dan geografinya.

Menghadapi sebuah budaya yang sekian lama tidak mengenal tradisi tulus, tidak terbiasa mencatat berbagai peristiwa sejarah dalam buku harian, maka penelusuran dilakukan lewat tradisi lisan, juga jejak-jejak yang tergambar dalam berbagai artefak budaya, seperti keeping mata uang atau kaligrafi yang ditulis di atas peti mati. Hitti dengan cerdik memanfaatkan semua itu sebagai data-data historis yang penting. Di tangannya, sejarah bukan hanya catatan tentang orang-orang besar, namun ungkapan rakyat kecil di pasar-pasar, atau coretan-coretan yang tercecer di pinggir jalan.

Dengan lugas, Hitti menyingkap fakta-fakta sejarah yang selama ini seakan tertutupi oleh subjektivitas keagamaan. Ia mengulas dengan objektif prestasi dan kegagalan yang dicapai oleh berbagai dinasti Islam. Ia juga layak mendapat acungan jempol karena mengulas dengan adil periode krusial dalam sejarah hubungan Islam-Kristen, yaitu Perang Salib.

Buku klasik ini merupakan karya besar yang memuaskan dahaga kalangan pembaca umum maupun kalangan akademis.


Pembahasan:

MASA PRA-ISLAM
Bangsa Arab sebagai Ras Semit dan Semenanjung Arab sebagai Tempat Kelahirannya
Hubungan Imternasional Paling Awal
Saba dan Negeri-Negeri Lainnya di Arab Selatan
Kerajaan Nabasia dan Kerajaan Kecil Lainnya di Arab Utara dan Tengah
Hijaz Menjelang Kelahiran Islam

KELAHIRAN ISLAM DAN KEKHALIFAHAN
Muhammad Rasulullah
Alquran dan Fondasi Ajaran Islam
Periode dan Penaklukan, penyebaran, dan Kolonisasi
Administrasi di Wilayah Baru
Kekhalifahan sebagai Lembaga Politik

DINASTI UMAYYAH DAN ABBASIYAH
Kekhalifahan Umayyah
Puncak Kekuasaan Bani Umayyah
Administrasi Politik dan Kondisi Sosial pada Masa Dinasti Umayyah
Warisan Peradaban Dinasti Umayyah dan Akhir Kekuasaannya
Berdirinya Dinasti Abbasiyah
Masa Keemasan Dinasti Abbasiyah
Negara Abbasyiah
Kehidupan Masyarakat pada Masa Dinasti Abbasiyah
Kemajuan Ilmiah dan Sastra
Pendidikan, Kesenian, dan Arsitektur
Sekte-Sekte dalam Islam
Kekhalifahan Terpecah: Dinasti-Dinasti Kecil di Barat
Dinasti-Dinasti di Timur
Keruntuhan Kekhalifahan Abbasiyah

BANGSA ARAB DI EROPA: SPANYOL DAN SISILIA
Penaklukan Spanyol
Emirat Umayyah di Spanyol
Kekhalifahan Umayyah di Kordova
Negara-negara Kecil Pasca Dinasti Umayyah
Sumbangan Keilmuan
Seni dan Arsitektur
Islam di Sisilia

NEGARA-NEGARA MUSLIM TERAKHIR PADA ABAD PERTENGAHAN
Kekhalifahan Syiah di Mesir: Dinasti Fatimiyah
Kehidupan Mesir pada Masa Fatimiyah
Kontak Militer Antara Barat dan Timur: Perang Salib
Kontak Budaya
Mamluk, Dinasti Arab Terakhir pada Abad Pertengahan

KEKUASAAN UTSMANI DAN KEMERDEKAAN
Arab sebagai Provinsi Turki
Mesir dan Arab Bulan Sabit
Perubahan Panggung: Pengaruh Barat


Tentang Penulis:

Philip K. Hitti lahir di Libanon pada 1886. Sejak 1913 hingga kematiannya pada 1978, ia hidup di hampir semua negara bagian Amerika Serikat. Ia pertama-tama mengajar di Columbia, kemudian di Princeton, tempat ia pensiun pada 1954 sebagai professor sastra semit dan Ketua Jurusan Bahasa-Bahasa Timur. Selain menulis sejumlah karya tentang dunia Timur, ia juga berperan aktif dalam berbagai kajian bahasa dan politik Timur Dekat dan giat dalam berbagai organisasi kebudayaan internasional.

Gerakan-Gerakan yang Mengguncang Dunia Islam (Sejarah Awal Perpecahan Umat)

Judul Asli: "Ats-Tsaurah 'Alal Islam" (Bagian pertama dari buku "Tarikh Al-Jumiyat as-Sirriyah Wal Harokat al-Haddamah")
Penulis: Abdullah Annan ML
Pengantar: Dr. Muhammad Husein Haekal
Penerjemah: Shaleh Mahfudz
Penerbit: Pustaka Progressif
Halaman: 181 hlm
Ukuran: 13,9 x 20,4 cm 
Jenis Cover: Soft Cover
Harga: Rp. 23.500


Belum genap 40 tahun, umat Islam diguncang dari dalam. Berawal dari perasaan tidak puas terhadap kebijaksanaan yang dijalankan oleh Khalifah Utsman Bin Affan. Puncaknya, Utsman terbunuh. Dengan terbunuhnya Utsman, awal perselisihan antara beberapa sahabat besar Rasulullah Saw. pun muncul. Ali bin Abi Thalib di satu pihak, dan Talhah serta Zubair di pihak lain. Tak hanya itu, Ali pun berselisih dengan Mu'awiyah. Perselisihan ini ternyata membawa barisan Ali pecah, munculnya Khawarij. Inilah awal dari munculnya gerakan-gerakan dan firqah dalam tubuh umat Islam. Gaungnya cukup dahsyat: mengguncang sejarah umat Islam.

Tapi, persoalannya adalah: betulkah para sahabat Rasulullah Saw. yang dijamin masuk surga itu sudah meninggalkan Islam? Buku-buku sejarah yang ditulis oleh para orientalis selama ini terkadang membuat rekonstruksi yang jauh menyimpang dari apa yang sebenarnya terjadi. Untuk itu, sejarah perlu diluruskan, dengan mengacu pada sumber-sumber yang akurat. Pisau analisa yang dipakai adalah obyektivisme yang dilandasi oleh nilai-nilai keimanan. Hasilnya, kita bisa memahami, mana perselisihan yang semata-mata karena unsur politis, mana yang menyangkut aqidah, dan mana yang sengaja merusak kekokohan umat Islam dari dalam.

Buku yang ditulis oleh Abdullah Annan ini, berusaha memberikan informasi yang benar dan jujur tentang berbagai pergerakan yang dilakukan oleh umat Islam - sepanjang sejarah.

Pembahasan: 

BAB I KHAWARIJ : a) Lahirnya Gerakan Khawarij; b) Aksi Permusuhan Khawarij; c) Sisa-sisa Khawarij Melanjutkan Perjuangan; d) Aksi-aksi Khawarij Pada Abad I Hijriah; e) Gerakan Khawarij di Abad II & III Hijriah; f) Politis Dalam Pemerintahan, Ijtihad di Bidang Hukum; g) Keikhlasan Memperjuangkan Ideologinya.

BAB II SYI'AH : a) Aliran Dalam Syiah; b) Perpecahan di Tubuh Syi'ah; c) Dari Ali ke Abbas; d) Tumbangnya Kekuasaan Bani Umayyah.

BAB III QARAMITAH : a) Cikal Bakal Gerakan Qaramitah; b) Perintis Gerakan Qaramitah; c) Aksi-aksi Qaramitah; d) Pemerintahan Qaramitah di Bahrain; e) Akhir Kedaulatan Qaramitah; f) Analisis dan kesimpulan.

BAB IV SYI'AH ISMAILIAH BERALIRAN MISTIK : a) Gerakan Ibnu Maimun di Afrika; b) Hakim bin Amrillah dan Aliran Mistiknya; c) Sekte Druz.

BAB V SYI'AH ISMAILIAH VERSI BARU : a) Gerakan Ismailiah Baru di Persia; b) Doktrin dan Taktik Gerakan Hasan Shabbah; c) Makar dan Pembunuhan; d) Reaksi Umum atas Kejahatan Ismailiyah; e) Kerajaan Hasan Shabbah; f) Gerakan Ismailiah di Syam; g) Hasan Shabbah dan Program Organisasinya; h) Kesimpulan.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
.